Via Dolorosa “di Bawah Salib yang Sunyi” oleh Akademisi UIN Ambon

Lensaperistiwa, Maluku – Jalan Salib, yang juga dikenal sebagai Via Dolorosa, merupakan simbol atau penggambaran jam – jam terakhir dari kehidupan Yesus Kristus di dunia, yang secara terus – menerus memberikan keyakinan rohani bagi semua umat Kristiani dan penerapannya dalam kehidupan kita. Jalan Salib mempunyai makna sebagai pengingat yang sangat “kejam” akan kerelaan Yesus mengesampingkan otoritas ilahinya untuk menyediakan jalan keselamatan melalui pengorbanan di tengah – tengah dunia.
Tradisi atau kebiasaan yang sering dilakukan pada masa Pra-Paskah, khususnya “Jumat Agung” ini, bertujuan untuk merenungkan akan kasih dan pengorbanan Yesus bagi seluru umat manusia.
Makana Via Dolorosa direspon positif oleh salah satu Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) AM Sangadji Ambon, Dr. Fahmy Sallatalohy pihaknya kepada wartawan di Ambon Sabtu, (04/04/2026).
Menyebut, sebagai seorang Muslim, ada keraguan yang lama saya simpan ketika ingin menuliskan tentang perayaan Jalan Salib yakni Jemaat Galala, Hatiwe Kecil Kota Ambon. Bukan karena saya tidak menghargainya, justru sebaliknya, saya takut, kata – kata saya keliru, takut tanpa sadar menyentuh sisi yang paling “sakral bagi basudara umat Kristiani.”
“Ada semacam kehati – hatian batin, apakah saya cukup mengerti untuk menulisnya?” Apakah empati saya cukup dalam untuk tidak melukai? Apakah saya bisa memahami derita yang tersimpan di balik setiap langkah itu, atau hanya sekadar melihatnya dari jauh tanpa pernah menyentuh maknanya? Apakah saya sedang berusaha memahami, atau tanpa sadar hanya sedang menafsir dari batas pengalaman saya sendiri? Mampukah saya menulis tanpa mengurangi kesakralan rasa yang hidup di dalamnya? Atau justru kata – kata saya akan terdengar ‘hampa’ di hadapan penderitaan yang begitu dalam?
Apakah saya cukup diam untuk mendengar apa yang tidak diucapkan? apakah saya cukup rendah hati untuk mengakui bahwa tidak semua hal bisa saya pahami sepenuhnya? dan di antara semua pertanyaan itu, ada satu yang paling sunyi: apakah mungkin rasa kemanusiaan itu sendiri sudah cukup untuk menjembatani perbedaan tanpa harus sepenuhnya mengerti, tetapi tetap mampu ikut merasakan.
Namun, ketika saya mencoba melihatnya lebih dekat lewat beberapa fragmentasi gambar, ada sesuatu yang perlahan menggeser cara pandang saya potongan – potongan adegan itu tidak lagi terasa sebagai rangkaian peristiwa yang terpisah, melainkan seperti serpihan makna yang saling terhubung membentuk satu kisah utuh tentang luka, kesetiaan, dan kemanusiaan. Dalam setiap detail kecil, saya mulai melihat lebih dari sekadar gerak tubuh. Ada ekspresi yang tertahan, ada langkah yang dipaksakan tetap maju, ada tatapan yang seakan menyimpan beban yang tidak terucapkan.
Gambar – gambar itu berbicara tanpa suara tentang rasa sakit yang tidak perlu dijelaskan, tentang penderitaan yang tidak perlu dilebihkan, karena ia sudah terasa begitu nyata, dan ketika satu adegan memperlihatkan tubuh yang terhuyung lalu jatuh, saya tidak lagi melihatnya sebagai bagian dari peragaan.
Ada getaran lain yang muncul seolah itu adalah gambaran tentang nyawa manusia yang sedang berada di titik paling rapuh.
Bahakan terjatuh bukan hanya karena beban fisik, tetapi karena dunia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Dari potongan – potongan itulah saya mulai mengerti, bahwa kadang makna tidak datang dari keseluruhan, tetapi justru dari hal – hal kecil yang sering terlewatkan. Bahwa dalam satu langkah yang tertatih, dalam jatuh yang sunyi, ada cerita panjang tentang perjuangan yang tidak selalu terlihat. Dan di situlah tanpa saya sadari, jarak antara melihat dan merasakan perlahan menjadi semakin dekat.
Di titik itu, saya seperti dipaksa berhenti sejenak bukan untuk melihat, tetapi untuk merasakan. Ada sunyi yang tiba – tiba turun, seolah – olah semua yang hadir sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar peristiwa. Jatuh itu tidak lagi milik satu tokoh, tetapi menjadi milik banyak orang milik mereka yang pernah runtuh diam – diam, yang pernah kehilangan kekuatan tanpa ada yang benar – benar menyadari, bahwa peranan via Dolorosa dipernakan oleh salah satu anak Tuhan nyong Zween Walalayo.
Dan mungkin di situlah makna akan kesengsaraan Yesus menjadi begitu nyata: bukan sekadar penderitaan yang dipertontonkan tetapi luka yang dihidupkan kembali agar manusia tidak lupa bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan tetap berjalan meski berkali – kali harus bangkit dari tanah.
Ada kesetiaan yang sunyi di sana, kesetiaan untuk terus melangkah, bahkan ketika tubuh dan hati sam – sama letih. Ketika tubuh itu perlahan bangkit kembali, dengan langkah yang masih goyah, ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan kekaguman, melainkan semacam keheningan yang mengiris, karena kita tahu, dalam kehidupan nyata, tidak semua orang punya kesempatan atau kekuatan untuk bangkit secepat itu. Ada yang tetap tertinggal dalam jatuhnya, ada yang terus berjalan sambil menyembunyikan luka yang belum sembuh.
Kemudian, dari situ saya mulai mengerti, bahwa yang paling menyentuh bukanlah adegannya, tetapi kemaknaan yang diam – diam meresap di dalamnya. Bahwasanya hidup sering kali mempertemukan manusia dengan luka yang tidak ia pilih, dengan jatuh yang tidak ia rencanakan. Namun di tengah semua itu, selalu ada satu hal yang tersisa, yaitu kemauan untuk tetap melangkah, walau pelan, walau tertatih, walau hampir menyerah.
Di titik itulah, batas antara peragaan dan kenyataan seakan runtuh, yang tersisa hanyalah rasa yang terlalu dalam untuk disebut sekadar adegan. Saya melihat sesuatu yang lebih dari sekadar peragaan. Saya melihat kesedihan yang diwariskan, luka yang dihidupkan kembali agar tidak dilupakan. Bukan hanya tentang menderita, tetapi tentang menerima penderitaan tanpa kehilangan kemanusiaan.
“Ia ditampar, tetapi tidak membalas, ia jatuh, tetapi tidak menyerah, dan di situlah letak kekuatan yang paling sunyi, kekuatan untuk tetap berjalan ketika seluruh dunia seakan menjatuhkan,” ketika tubuh itu jatuh di depan semua orang, ada suasana yang sulit dijelaskan. Seolah – olah waktu berhenti sejenak.
Orang – orang mungkin melihat tetapi tidak semua bisa benar – benar merasakan. Di situlah saya mulai memahami bahwa penderitaan terbesar bukan hanya rasa sakit, tetapi ketika rasa sakit itu harus dijalani di hadapan banyak orang tanpa mampu dihindari, ada kesendirian yang sangat dalam, bahkan di tengah keramaian. “Ada tangisan yang tidak terdengar, tetapi terasa menekan dada siapa pun yang mau diam sejenak dan merenung, adegan itu seperti mengingatkan bahwa dalam hidup, manusia sering mengalami jatuh” yang tidak terlihat oleh orang lain, jatuh dalam batin, jatuh dalam harapan, jatuh dalam kepercayaan.
Namun, seperti dalam prosesi itu, jatuh bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Ada keharusan untuk bangkit, meskipun perlahan meskipun dengan luka yang masih terbuka. Dan mungkin di situlah makna terdalam dari figur Yesus : bukan sekadar penderitaan, tetapi keteguhan untuk terus berjalan dalam luka. Dan saya menyadari: mungkin yang paling menyentuh bukanlah adegannya, tetapi makna yang diam – diam meresap.
Bahwa di balik setiap tamparan setiap jatuh, dan setiap langkah yang tertatih, ada pesan yang sangat dalam bahwa menjadi manusia berarti siap terluka, tetapi juga tetap memilih untuk berjalan.”Sebagai seorang Muslim, saya memandang peristiwa ini bukan sekadar ritual keagamaan melainkan sebagai cermin yang sangat dalam tentang kemanusiaan.”
Jalan Salib di Jemaat Gatik tidak hanya menghadirkan kembali kisah penderitaan Yesus Kristus, tetapi juga memantulkan wajah manusia hari ini, mereka yang diam – diam memikul beban hidup, yang jatuh tanpa banyak disadari yang tetap berusaha bangkit tanpa sorotan, tanpa suara, bahkan tanpa sempat mengeluh. Di sepanjang jalan itu, langkah – langkah yang tertatih seakan membawa lebih dari sekadar kayu salib. “Ia memikul luka yang tidak terlihat, kelelahan yang tak terucapkan, dan kesunyian yang sering kali hanya dipahami oleh diri sendiri.” Ada wajah – wajah yang menahan sakit, ada tubuh yang dipaksa tetap berdiri meski hampir runtuh.
Ketika sosok itu ditampar terhuyung kaku lalu jatuh di depan orang banyak, ada sesuatu yang terasa pecah di dalam hati, seolah – olah yang jatuh bukan hanya tubuh, tetapi juga harapan, harga diri, dan kekuatan yang selama ini dipertahankan dengan susah payah, sebutnya.
Jatuhnya tubuh itu bukan sekadar bagian dari peragaan, melainkan gambaran tentang betapa rapuhnya manusia ketika berhadapan dengan kerasnya dunia. Ada jiwa yang jatuh tanpa disambut, tanpa ditolong, bahkan tanpa benar – benar dilihat.
Mereka menahan sakit di tengah keramaian, menyimpan luka di balik diam, dan terus berjalan meski hati mereka perlahan runtuh. Di situlah penderitaan menjadi begitu sunyi, tidak selalu bersuara, tetapi terasa dalam dan lama.
Namun yang paling menyayat bukanlah jatuhnya, melainkan keharusan untuk bangkit kembali. Dengan tubuh yang masih gemetar dan luka yang belum sempat pulih langkah itu harus dilanjutkan.
Seolah hidup tidak memberi ruang untuk berhenti, apalagi menyerah. Di titik kesengsaraan, terlihat kekuatan yang paling dalam, bukan kekuatan untuk melawan, tetapi kekuatan untuk bertahan, hidup untuk tetap berjalan walau pelan terlihat tertatih – tatih walau hampir tidak sanggup.
Dalam diamnya prosesi itu, tersimpan banyak cerita yang tak terucapkan. Tentang mereka yang kehilangan tetapi harus tetap tersenyum. Tentang mereka yang diperlakukan tidak adil tetapi memilih diam.
Tentang mereka yang memikul beban yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan kata – kata. Jalan Salib itu menjadi semacam bahasa sunyi bagi semua luka yang tidak sempat diungkapkan.
Pada akhirnya, yang tertinggal bukan hanya ingatan tentang sebuah peristiwa, tetapi rasa yang menetap di dalam dada. Bahwa menjadi manusia berarti siap untuk terluka, jatuh, berjalan dalam keheningan dunia akan ketidakpastian. Namun di balik semua itu selalu ada harapan kecil, rapuh, tetapi tidak pernah menyerah dan membuat manusia terus melangkah, meskipun air mata bercucuran yang tidak terlihat.(fs)







