BI Perkuat Bauran Kebijakan, BI-Rate Ditahan 4,75 Persen demi Stabilitas dan Pertumbuhan

BI Perkuat Bauran Kebijakan, BI-Rate Ditahan 4,75 Persen demi Stabilitas dan Pertumbuhan

Lensaperistiwa – Jakarta

Bank Indonesia (BI) terus memperkuat bauran kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Langkah tersebut sekaligus ditujukan untuk mendukung dan bersinergi erat dengan Program Asta Cita Pemerintah.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, pada triwulan IV 2025 hingga Januari 2026, kebijakan moneter ditempuh dengan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate, memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah, serta mengoptimalkan strategi operasi moneter yang bersifat pro-market.  “Berbagai kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry Warjiyo di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, BI mempertahankan suku bunga kebijakan pada Oktober, November, dan Desember 2025, serta Januari 2026 di level 4,75 persen. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global, sekaligus memperkuat efektivitas pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial.

Selain kebijakan moneter, BI juga terus memperkuat implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan perbankan. Di sisi lain, pengembangan sistem pembayaran digital terus diakselerasi untuk mendukung ekonomi dan keuangan digital nasional, termasuk mendorong elektronifikasi transaksi keuangan pemerintah.

Ke depan, BI tetap membuka ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut. Perry menegaskan, peluang tersebut akan terus dicermati dengan mempertimbangkan prakiraan inflasi 2026–2027 yang diproyeksikan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, serta kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam menjaga stabilitas nilai tukar, BI juga terus memperkuat strategi stabilisasi Rupiah melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, serta transaksi spot dan NDF di pasar domestik. Selain itu, BI aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Tak hanya itu, BI memperkuat strategi operasi moneter pro-market untuk mendukung stabilisasi Rupiah sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA). Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam mendorong penurunan suku bunga dan memperluas likuiditas di perekonomian.

lensaperistiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *