Breking News

Imam Ibrahim: Korban Penganiayaan Golongan Wahabia di Larat

Lensaperistiwa.com – Ambon

Golongan wahabi menjadi perbincangan publik usai melakukan tindak penganiayaan terhadap imam Mesjid Al-Mushajirin Tanimbar Utara hj.Muhamad Ibrahim Lasaido pada Selasa,(13/06/2023).

Wahabi merupakan pemikiran Islam yang berpegang teguh pada purifikasi atau pemulihan Islam ke bentuk yang sesuai Alquran-hadis dan melarang inovasi.

Lembaga Dakwah PBNU merekomendasikan kepada pemerintah (dalam hal ini Kemenkopolhukam, Kemenkumham, Kemendagri, dan Kemenag) untuk membuat dan menetapkan regulasi yang melarang penyebaran ajaran Wahabiyah,” demikian bunyi rekomendasi itu, seperti dikutip di laman resmi LD PBNU,

Selasa,pukul 05.25 Wit setelah selesai sholat subuh terjadi tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh tiga oknum dari golongan Wahabi yakn B ,R dan S terhadap imam hj.Ibrahim tepat di dalam Masjid Al-Mushajirin Larat.
Yang menyebabkan kaki kiri bengkak memar ,wajah bengkak kebiruan karena di tikam menggunakan tongkat Khotbah dan dintonjok berkali-kali.

Bukan itu saja Imam hj.Ibrahim di cacimaki dan dikata yang tidak pantas yang dilontarkan oleh dua oknum wahabi tersebut.

“Imam babi apa seperti kau,dasar imam bodok,kau tidak pantas menjadi seorang imam” begitu kata imam Ibrahim ketika di mintai keterangan oleh media tersebut.

Masih dalam ibadah sholat subuh sudah ada pergerakan yang memulai timbulnya penganiayaan tersebut

” waktu saya memulai ibadah sholat subuh mereka sudah berulah dibelakang,sehingga saya tegur,ini kita dalam proses ibadah kenapa situasi jadi kisruh begini nah disitulah mereka tidak senang dan mulai melakukan penggroyokan terhadap saya dengan posisi satu orang menahan saya dari belakang dan dua orang dari depan menganiaya saya sampai babakbelur,kaki kiri saya ditendang hingga saya terjatuh” Jelas hj.Ibrahim

Menurut penjelasan ketua MUI Tanimbar Utara Sulaiman Sahabudin AMK
Mereka sangat keberatan dengan keberadaan Golongan Wahabi di kota Larat karena sudah banyak melakukan masalah sampai tingkat kriminal dan terorisme sehingga sudah memakan banyak korban penganiayaan dan pelecehan nama baik tokoh Pemuka Agama.

“Saya sangat menyesal kenapa seorang Imam dipukul ,? dan sangat tidak setuju dengan penyelesaian kemarin oleh tua tua adat dari empat serangkai yakni Ridool,Ritabel,Lelingluan dan Watidal.mengapa ? Karena kita tidak diberi ruang untuk menyampaikan keluhan kita,malah di lakukan perdamaian” ujarnya merasa kesal.

Sulaiman memaparkan semua tindakan yang dilakukan oleh golongan Wahabi terhadap Nahdatul Ulama (NU) Tanimbar Utara.

“Golongan ini pernah menguasai Masjid Al-Mushajirin dari tahun 2010 sampai Tahun 2021” jelas Sulaiman

Setelah adakan pergantian pengurus Masjid Al-Mushajirin dari Golongan Wahabi ke NU Tanimbar Utara hanya sebatas tugas dan tanggung Jawab yang diberikan kepada NU saja,sedangkan Dana Masjid Al-Mushajirin dengan besaran empat ratus lima puluh juta Rupiah (Rp.450.000.000,) bum diserahkan kepada pengurus NU yang baru .

“hal ini saya sebagai ketua MUI sudah melaporkan dua kali kepada pihak berwajib namun sepertinya tidak ada respon yang baik terhadap kami”.

Penganiayaan ini juga sudah dilaporkan ke tingkat MUI kabupaten dua hari lalu setelah kejadian namun sepertinya tidak ada respon dari pihak kabupaten.

Sulaiman mengatakan kejadian ini yang ke dua puluh dua kali (22) yang dilakukan oleh golongan Wahabiah tersebut

“Mereka sudah melecehkan umat islam di Tanimbar Utara diantaranya
-membuang beduk Masjid Al-Mushajirin,
-di tahun 2008 mengangkat dan memberhentikan Imam tanpa musyawarah umat,
– Mencacimaki Tokoh pemuka Agama islam yakni Imam hj.Abdul Muis La Ode Onsu oleh ketua Wahabi sendiri
– menolak Surat Keputusan SK Imam dari Bimas Islam Kantor Agama KKT dan dinyatakan Ilegal
– Menolak pelaksanaan STQ di Kilon karena menahan Dana Masjid Al-Mushajirin
-Merobek jadwal ibadah Puasa dan Imzak di bulan puasa pada tahun 2021 lalu
– memukul Marbot Masjid Al-Mushajirin
Dan masih banyak lagi yang dilakukan golongan tersebut .

” sampai sekarang yang jadi pertanyaan nya mengapa tidak ada tindakan dari MUI kabupaten terhadap kami dan golongan ini ” tandas ketua MUI mengakhiri.*

SRA

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *