Ketum MAPHP : Media Tulis Nama dan Sebut WDF Eksekutor Wajib Ralat Pemberitaannya

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
141

lensaperistiwa.com – Jakarta

Menanggapi video kejar – kejaran yang diwarnai penembakan oleh Unit Reaksi Cepat Tim Rajawali Polres Metro Jakarta Timur terhadap dua terduga pelaku begal yang sempat viral di media sosial Nasional dan Manca Negara, bahkan menjadi topik pembahasan dalam acara bincang – bincang dan tolk show di beberapa stasiun televisi nasional yang dalam copy Salinan Putusan Nomor : 09/PID. Sus-Anak/2020/PN. Jkt-Tim, tanggal 20 Mei 2020, dinyatakan bahwa yang melakukan perampasan handphon dari tangan korban bukannya WDF melainkan YUS APRIAN, membuat pemberitaan yang tayangkan di beberapa media cetak dan elektronik maupn televisi serta berbagai media sosil patut dikoreksi.

Sebagaimana dilansir, hal tersebut disampikan Ketua Umum (Ketum) Perkumpulan Masyarakat Peduli Hukum dan Pemerintahan (MAPHP) John W Sijabat Minggu (14/6) kepada Koran WANTARA saat dimintakan tanggapannya terkait rencana melaporkan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang memeriksa perkara anak tersebut sebagaimana diberitaan di media online  dan cetak LENSA PERISTIWA dan WARTASIDIK sejak Sabtu (13/6) kemarin berjudul “Menguak Misteri Di Balik Video Viral Penembakan Dua Begal Oleh Tim Rajawali (bag 1)” .

Menurut John, dengan dinyatakannya bahwa yang merampas handphon adalah YUS APRIAN, maka secara otomatis seluruh pemberitaan yang menyatakan bahwa WDF sebagai pelaku perampasan maupun yang menyatakan bahwa WDF sebagai eksekutor dan ABH sebagai pilot telah menayangkan berita bohong.

Demikian juga bagi media yang menuliskan nama lengkap WDF dan ABH telah melanggar etika jurnalis tentang Pedoman Pemberitaan Ramah Anak yang dibuat oleh Dewan Pres serta berpotensi dijerat hukum pidana sebagaimana diatur dalam undang – undang tentang Sistem Peradilan Anak.

Ironisnya lagi lanjut John, ada media televisi nasional terkemu dalam pemberitaannya baik secara lisan maupun dengan teks menyatakan bahwa “Kedua Pelaku Yang Tertangkap Bertugas Merampas Ponsel Korban (CNN Indonesia), dan dalam siaran berita Kabar Pagi, TV One bukan saja menyatakan bahwa keduanya adalah pelaku perampas Ponsel, bahkan denga terang dan jelas menyebutkan nama WDF dan ABH, serta ada beberapa media lagi yang telah melakukan pelanggaran tersebut.

Untuk itu, mewakili keluarga, selaku Ketum DPP MAPHP meminta kepada seluruh media cetak dan online, media televisi serta berbagai media sosial lainnya yang terkait dengan jenis – jenis pelanggaran di atas diminta segera melakukan koreksi dan meralat pemberitaannya, karena jika tidak dilakukan,  berdasarkan Surat Kuasa yang  diterima dari orang tua WDF, pihaknya akan melakukan langkah –langkah hukum termasuk melaporkan secara pidana.

“Ini harus menjadi perhatian Dewan Pers, sebab dalam melakukan kesalahan pemberitaan, siapapun bisa sehingga  tidak ada jaminan bahwa media – media yang telah lolos verifikasi akan konstinten dalam pemberitaannya.

Jika kita tidak setuju untuk mengatakan bahwa yang menyebutkan WDF eksekutor yang merampas ponsel dan ABH sebagai pilotnya adalah “hoax” maka kita sebut saja bahwa pemberitaan tersebut terjadi karena “Keteledoran atau ketidak akuratan para jurnalis untuk melakukan cek dan ricek, croscek dan konfirmasi  serta tidak disipilin verifikasi”   sebagaimana disebutkan Rosiana Silalahi dalam Rosi show dengan thema ‘Hidup Baru Era New Normal’ di Kompas TV.

Dalam acara Rosi show sebelumnya di Kompas TV dengan thema “Kejahatan Dimasa Corona”  yang menghadirkan Tim Rajawali Polres Metro Jakarta Timur, Karo Penum Mabes Polri, Menkumham serta beberapa tokoh lainnya, mengawali topik bahasannya Ibu Rosi sebelum menayangkan video yang viral tersebut mengatakan antara lain “ video yang memperlihatkan aksi kejar – kejaran antara anggota polisi dengan perampok di kawasan Jakarta Timur, seperti dalam adegan film aksi kejar – kejaran ini diwarnai dengan tembak – tembakan untuk melumpuhkan pelaku”     

Dalam narasi yang diucapkan pada video singkat tersebut dinyatakan bahwa “berdasarkan keterangan saksi, kedua pelaku beraksi dengan belasan pengguna sepeda motor lainnya, mereka merampas telepon  genggam milik korban serta mengancam dengan senjata tajam”

Namun sayangnya dalam acara tersebut tidak ada narasumber yang dapat menjelaskan siapa sesungguhnya yang merampas telepon genggam dari korban dan siapa yang mengancam korban dengan senjata tajam serta siapa saja yang berhasil di tangkap dan dimana keberadaan posel tersebut ?

“Dalam video singkat tersebut, aksi perampasan tidak terekam dan dua ponsel yang disita dari tas milik WDF pada saat penembakan tidak dinyatakan sebagai ponsel hasil rampasan.

Bukakah video viral tersebut menjadi topik utama dalam pembahsan, mengapa informasi keempat nama lainnya yang terlibat tidak diungkapkan pada malam itu.

Karena berdasarkan informasi yang kami terima menyatakan bahwa keempatnya memilki peran masing – masing dalam aksi tersebut. Ada yang berperan merampas ponsel dan menendang korban, salah satunya berperan mengancam korban dengan senjata tajam dan ada pula yang bertindak sebagai penjual ponsel hasil rampasan tersebut, karena sesungguhnya ponsel yang dirampas disita penyidik dari salah – satu konter HP yang ada di bilangan Tipar Cakung,” ujar John. (bersambung/Tim)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
141

Facebook comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *