Jusbinaraya Br Simamora: Suamiku Dibunuh Mereka Saya Minta Keadilan Dan Kepastian Hukum Di Negara Ini

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2

lensaperistiwa.com Labuhanbatu

Pembunuhan terhadap oknum wartawan 29/10/2019 di sungai berombang kecamatan Panai hilir, kabupaten labuhan batu menghilangkan nyawa Maraden Sianipar dan Maringin P Siregar alias sanjai diduga oleh karyawan PT. SAB atau KSU AMELIA dan lima orang pelaku pembunuh wartawan sudah berhasil diringkus oleh Polda Sumut.

Kejadian inilah membuat saya sedih kata jusbinaraya br.simamora istri almarhum Maraden Sianipar, sampai saat ini saya masih merasakan kesedihan, merenungi nasib hidup keluarga ini yang mana anak anak kami masih dalam tanggungan katanya.

Almarhumlah yang selama ini mencari napkah untuk keluarga kami ini.
Bagaimanalah nanti nasib anak-anak ku ini,.??
ucapnya kepada media, dengan wajah sedih meneteskan air mata.

Ia tambah lagi, dimana letak keadilan hukum dinegara ini, karena saya merasa ada kejanggalan selama persidangan berjalan di Pengadilan Negeri Rantauprapat, “Keadilan itu seakan benar menjadi milik pengusaha yang menjadi penguasa”.
Yang disebut sebagai otak pelaku pembunuhan suami saya tidak ada muncul dalam persidangan beberapakali mengikuti persidangan di pengadilan negeri Rantauprapat. Wajar saya mendapatkan keadilan hukum, ucapnya.

Saya rasa kalau bukan karena uang atau otak dari pelaku utama pemilik perusahaan perkebunan itu mungkin suamiku sampai sekarang masih hidup dan bisa memberikan nafkah dan kasih sayangnya pada anak-anak kami, ujar Jusbinaraya.

Deni Albar.SH Humas Pengadilan Negeri Rantauprapat Kabupaten
Labuhanbatu Provinsi Sumatera Utara, ditemui di PN Rantauprapat mengatakan kepada media “sampai saat ini persidangan masih berjalan tahap pemeriksaan saksi saksi” nama Wibharry padmoasmolo ada didalam berkas perkara sebagai saksi, karena beliau keluar kota tidak bisa pulang situasi pandemik Covid 19 dan tidak dapat hadir di Persidangan, maka sidangnya secara elektronik atau E-court.

Pantauan berbeda relis pers atau konferensi pers Jumat 8/11/19 di Mapolda sumut, para eksekutor menghabisi nyawa kedua aktivis tersebut karena dendam terkait konflik lahan perkebunan kelapa sawit di desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhanbatu.
Para eksekutor dibayar Rp 40 juta oleh otak pelaku untuk menghabisi kedua aktivis.(tim)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2

Facebook comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *